Semua orang mungkun sudah banyak yang tahu bahwa Desa Wisata Penglipuran dikenal luas sebagai salah satu desa terbersih di dunia dengan tata ruang adat Bali yang rapi, simetris, dan nyaris tak berubah sejak puluhan tahun lalu. Berada di kawasan dataran tinggi dengan udara sejuk, desa ini kerap disebut sebagai gambaran Bali tempo dulu yang masih terjaga hingga kini.
Namun, banyak wisatawan justru pulang dengan kesan biasa saja karena hanya datang untuk berfoto tanpa memahami cara menikmati desa ini secara utuh. Agar kunjunganmu ke Penglipuran lebih bermakna, artikel ini akan mengulasnya secara lengkap—mulai dari latar belakang, sejarah, hingga tips berkunjung agar pengalaman wisata tidak sekadar lewat.
Sekilas Tentang Desa Wisata Penglipuran
Desa Wisata Penglipuran terletak di Kabupaten Bangli, menjadi Desa Wisata di Bali yang paling diminati wisatawan. Berada di kawasan dataran tinggi yang berhawa sejuk dan relatif jauh dari keramaian pesisir. Desa ini merupakan salah satu desa adat Bali yang hingga kini masih menjaga tata ruang, arsitektur, serta aturan hidup tradisional secara konsisten.
Penglipuran dibangun mengikuti konsep Tri Mandala, yaitu pembagian wilayah berdasarkan tingkat kesucian. Bagian utara desa dianggap paling sakral, bagian tengah menjadi kawasan permukiman, sementara bagian selatan digunakan untuk aktivitas pendukung. Pola inilah yang membuat susunan desa terlihat rapi dan harmonis, bukan hasil penataan wisata modern.
Nama Penglipuran dipercaya berasal dari kata panglipur, yang berarti penenang pikiran. Konon, kawasan ini dahulu menjadi tempat peristirahatan para bangsawan Bangli. Filosofi ketenangan tersebut masih terasa hingga kini melalui suasana desa yang tertib dan tenang.
Dalam perkembangannya, masyarakat Penglipuran tetap mempertahankan aturan adat, mulai dari kebersihan lingkungan, larangan kendaraan bermotor di area utama, hingga penataan pekarangan rumah. Ketika ditetapkan sebagai desa wisata, pariwisata dimanfaatkan sebagai sarana pelestarian budaya tanpa menghilangkan identitas adat yang menjadi jiwa desa ini.
Kesalahan Umum Wisatawan Saat Berkunjung ke Penglipuran
Kesalahan paling umum pengunjung adalah menganggap Penglipuran hanya sebagai destinasi foto. Akibatnya, kunjungan sering terasa singkat dan kurang berkesan.
Beberapa pengunjung datang di jam ramai tanpa persiapan, sehingga desa terasa padat dan kehilangan sisi tenangnya. Ada pula yang kurang memperhatikan etika, seperti masuk ke pekarangan rumah tanpa izin atau berpakaian kurang sopan, yang sebenarnya kurang pantas di lingkungan desa adat.
Memahami karakter Penglipuran sangat penting agar kunjungan tidak sekadar menjadi aktivitas visual, tetapi juga pengalaman budaya. Padahal desa ini memiliki keunikan yang sangat bisa dieksplor oleh para wisatawan.
Keunikan dan Daya Tarik Desa Adat Penglipuran

Keunikan paling mencolok dari Desa Wisata Penglipuran terlihat pada keseragaman tata ruang. Jalan utama desa membentang lurus dari utara ke selatan, diapit deretan angkul-angkul dengan bentuk yang hampir seragam.
Selain itu, Penglipuran dikenal karena konsistensinya menjaga kebersihan lingkungan. Area desa bebas dari kendaraan bermotor, sehingga suasananya terasa tenang dan nyaman untuk berjalan kaki.
Selain tata ruang yang menggunakan konsep Tri mandala dan kebersihan desanya, Desa Wisata Penglipuran memiliki beberapa daya tarik lain yang berasal dari tradisi, lingkungan, dan kehidupan masyarakatnya sehari-hari, diantaranya adalah :
Festival Budaya Penglipuran
Salah satu daya tarik utama Penglipuran adalah Penglipuran Village Festival, festival budaya tahunan yang biasanya digelar menjelang akhir tahun. Festival ini menampilkan berbagai kesenian tradisional Bali, seperti Barong Ngelawang, parade busana adat, dan kegiatan budaya lainnya. Momen ini menarik bagi wisatawan yang ingin melihat kehidupan desa dalam suasana yang lebih ramai dan dinamis.
Ritual Keagamaan yang Masih Dilestarikan
Masyarakat Penglipuran hingga kini masih menjalankan berbagai ritual keagamaan, salah satunya Ngusaba yang dilaksanakan menjelang Hari Raya Nyepi. Selain itu, persembahyangan rutin di pura desa juga terus dilakukan. Tradisi ini mencerminkan kuatnya nilai spiritual dan penghormatan terhadap leluhur yang tetap dijaga oleh warga setempat.
Kuliner Khas Tipat Cantok dan Loloh Cemcem
Penglipuran juga dikenal lewat kuliner tradisionalnya, terutama tipat cantok dan loloh cemcem. Tipat cantok merupakan sajian ketupat dengan sayuran rebus dan bumbu kacang, sementara loloh cemcem adalah minuman herbal berbahan daun cemcem. Keduanya mudah ditemukan di area desa dan dijual dengan harga yang relatif terjangkau.
Hutan Bambu sebagai Pelindung Desa
Keberadaan hutan bambu yang mengelilingi desa menjadi daya tarik sekaligus bagian penting dari kehidupan masyarakat Penglipuran. Hutan ini dijaga sebagai warisan leluhur, berfungsi sebagai kawasan resapan air, serta pelindung lingkungan desa. Bagi pengunjung, area ini juga menjadi tempat berjalan santai dan latar foto yang alami.
Dengan segala pesona yang ditawarkan, Desa Wisata Penglipuran menjadi pilihan ideal bagi siapa pun yang ingin menyelami keindahan alam sekaligus kearifan lokal Bali. Destinasi ini sangat ramah untuk keluarga, khususnya yang membawa anak-anak, karena menghadirkan pengalaman edukatif yang menyenangkan untuk mengenalkan keanekaragaman budaya Indonesia sejak dini.
Di sisi lain, suasana desa adat yang tertata rapi, asri, dan autentik juga menjadikannya tempat favorit bagi pasangan—baik untuk sekadar berfoto bersama, sesi foto couple romantis, hingga foto prewedding berlatar Desa Adat Penglipuran yang ikonik dan sarat nilai budaya.
Singkatnya, Penglipuran bukan sekadar tempat wisata, tetapi ruang pengalaman yang menyatukan edukasi, budaya, dan estetika dalam satu destinasi. Bukan itu saja, jaraknya juga cukup relatip mudah dijangkau yang hanya 90 – 120 menit dari Kuta atau Bandara Ngurai Rai.
Lokasi dan Cara Menuju Desa Wisata Penglipuran
Desa Wisata Penglipuran berlokasi di Kecamatan Bangli, sekitar 1–1,5 jam perjalanan dari Denpasar atau Ubud, tergantung kondisi lalu lintas.
Akses menuju desa cukup mudah ditempuh dengan kendaraan pribadi, baik motor maupun mobil. Jalan menuju lokasi sudah beraspal baik, dan area parkir tersedia di pintu masuk kawasan wisata.
Mungkin banyak yang sering bertanya, berapa jarak Kuta ke Desa Penglipuran, nah menurut data google maps, jarak kedua daerah ini adalah 56,4 km yang bisa diakses melalui Jl. Bypass Ngurah Rai dan Jl. Prof. Dr. Ida Bagus Mantra.
Dari Kuta, Anda bisa mengikuti rute darat berikut:
-
Kuta → Denpasar
-
Arahkan kendaraan ke Denpasar melalui Jalan By Pass Ngurah Rai atau jalur dalam kota, tergantung titik awal Anda.
-
-
Denpasar → Gianyar
-
Lanjutkan perjalanan ke arah Ubud / Gianyar melalui Jalan Prof. Dr. Ida Bagus Mantra atau jalur Denpasar–Ubud.
-
-
Gianyar → Bangli
-
Dari Gianyar atau Ubud, lanjut ke arah Bangli. Jalanan akan mulai menanjak dengan pemandangan perbukitan dan pedesaan Bali.
-
-
Bangli → Desa Penglipuran
-
Dari pusat Kota Bangli, ikuti petunjuk arah menuju Desa Wisata Penglipuran. Lokasinya sudah jelas di Google Maps dan ada papan penunjuk jalan.
-
Waktu paling ideal untuk berkunjung ke Desa Penglipuran adalah pagi hari sekitar pukul 08.00–10.00 WITA. Pada jam ini, udara masih sejuk, suasana desa terasa lebih tenang, dan pencahayaan alami sangat mendukung untuk mengambil foto tanpa terganggu keramaian pengunjung. Bukan itu saja, jika wisatawan sudah berangkat pagi, maka bisa berkunjung juga ke destinasi lainnya yang searah seperti Desa Wisata Undisan.
Sebaiknya hindari waktu kunjungan antara pukul 10.30–14.30 karena pada jam tersebut kawasan desa biasanya dipadati wisatawan. Untuk pengalaman yang lebih nyaman, kunjungan juga disarankan dilakukan pada musim kemarau, saat cuaca cenderung cerah dan aktivitas wisata dapat dinikmati secara maksimal.
Harga Tiket Masuk dan Fasilitas Umum
Untuk berkunjung ke Desa Wisata Penglipuran, wisatawan dikenakan tiket masuk dengan harga yang relatif terjangkau. Tiket ini digunakan untuk perawatan lingkungan, fasilitas umum, serta mendukung aktivitas masyarakat desa. Berikut ini adalah daftar harga terbaruk tiket masuk desa wisata penglipuran :
- WNI Dewasa (lokal) : Rp25.000/orang
- WNI Anak (lokal) : Rp15.000/orang
- WNA Dewasa (turis) : Rp50.000/orang
- WNA Anak (turis) : Rp30.000/orang
- Parkir Sepeda Motor : Rp2.000
- Parkir Mobil/Mikrobus : Rp5.000
- Parkir Bus Pariwisata : Rp10.000
Selain tiket masuk, pengunjung biasanya hanya perlu menyiapkan biaya parkir dan dana tambahan jika ingin membeli produk UMKM atau makanan lokal.
Sinyal telepon tersedia meskipun tidak selalu kuat di semua area dan fasilitas dasar di Desa Wisata Penglipuran cukup lengkap, antara lain:
- Toilet umum
- Area parkir luas
- Warung makanan dan minuman
- Toko suvenir dan produk lokal
Sebagai solusi bagi wisatawan yang datang menjelang sore atau memang ingin merasakan suasana malam hari di kawasan Desa Penglipuran, tersedia beberapa homestay dan penginapan sederhana yang dikelola langsung oleh warga lokal. Menginap semalam memungkinkan Anda menikmati atmosfer desa yang lebih hening dan autentik setelah wisatawan harian berkurang.
Apakah Desa Wisata Penglipuran Layak Dikunjungi?
Desa Wisata Penglipuran layak dikunjungi bagi wisatawan yang ingin melihat sisi Bali yang lebih tenang, tertib, dan berakar kuat pada budaya. Tempat ini bukan destinasi dengan banyak atraksi, tetapi justru menawarkan pengalaman yang sederhana namun bermakna.
Dengan ekspektasi yang tepat dan sikap yang menghormati budaya lokal, Penglipuran bukan hanya indah untuk dilihat, tetapi juga berkesan untuk dirasakan.














